Hingga hari ini, kehidupan umat manusia
terus dihadapkan dengan sejumlah kemelut dan persoalan akibat ide dan isme
menyesatkan yang dikemas dengan kata-kata indah dan janji yang memukau, tapi
ustadz Hasan Banna menyatakan :
Da’wah kami terbebas dari segala bentuk kepalsuan dan kebohongan.
Da’wah kami dinaungi oleh kebenaran yang agung, berdasarkan wahyu ilahi yang dipelihara sendiri oleh Allah kebenarannya.
Dan da’wah kami terbebas dari tamak dan ambisi pribadi dan pengembannya adalah kaum yang berbakti dan berserah diri untuk mengembangkan risalah ini.
Da’wah kami terbebas dari segala bentuk kepalsuan dan kebohongan.
Da’wah kami dinaungi oleh kebenaran yang agung, berdasarkan wahyu ilahi yang dipelihara sendiri oleh Allah kebenarannya.
Dan da’wah kami terbebas dari tamak dan ambisi pribadi dan pengembannya adalah kaum yang berbakti dan berserah diri untuk mengembangkan risalah ini.
Sikap Terhadap Al Qur'an
Sebagai aktivis da’wah, sikap kita terhadap
Al-Qur’an haruslah jelas. Kejelasan sikap kita menjadi sangat penting, karena
merupakan salah satu ukuran pokok dari keimanan kita kepada Allah SWT.
Sikap-sikap itu antara lain: meyakini dan memahami bahwa Al-Qur’an merupakan
kitab yang menjelaskan hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan halal dan haram,
petunjuk menuju kebaikan dan kebahagiaan serta jalan yang lurus.
Karena itu, salah satu yang harus kita evaluasi adalah apakah kita mau mentaati utusan-Nya, menghormati aturan-aturan-Nya, bersedia melaksanakan hukum-hukum-Nya, menjunjung tinggi kitab-Nya dengan selalu menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan apa yang diharamkanNya.
Karena itu, salah satu yang harus kita evaluasi adalah apakah kita mau mentaati utusan-Nya, menghormati aturan-aturan-Nya, bersedia melaksanakan hukum-hukum-Nya, menjunjung tinggi kitab-Nya dengan selalu menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan apa yang diharamkanNya.