Campur aduk rasanya melihat berita tentang Mesir. Coup d’etat di Mesir adalah ironi di tengah dunia yang semakin beradab. Mursi, presiden yang hafal seluruh isi al-Quran itu adalah presiden Mesir yang terpilih secara sah dan konstitusional setelah memenangkan pemilu yang demokratis sebagai buah dari revolusi Arab Spring di Mesir tahun lalu.
Namun rumus fisika sejarah sejak zaman primitif masih saja berulang, ada kelompok dalam kontentasi pemilu yang tidak siap menerima kekalahan. Mereka melakukan kerusuhan, anarkisme, bahkan hingga perkosaan massal. Barbar.
Amerika sendiri yang acap bicara demokrasi terlihat ambigu dan galau. Ada dua ambugitas amerika. pertama Amerika tidak tegas untuk mengatakan bahwa penggulingan presiden sah Mesir Mohammed Moursi adalah sebuah kudeta militer. Kedua, inkonsistensi AS dengan tetap memberikan bantuan militer kepada Mesir pasca pelengseran Mursi. Bahkan akan tetap meneruskan rencananya mengirimkan empat pesawat jet tempur F-16 ke Mesir dalam beberapa minggu mendatang. Padahal hukum AS melarang pemberian bantuan kepada pemerintah asing hasil kudeta terhadap pemimpin yang terpilih secara demokratis. Setiap tahunnya, AS memberikan bantuan sebesar 1,5 milliar dolar kepada pemerintah Mesir dimana 1,3M dialokasikan untuk militer, terbesar kedua setelah bantuan kepada Israel.
